Dosen Inspiratif: Mohamad Rokib Pimpin Tim Inovasi Pendidikan Tinggi Asia-Eropa
Di tengah dinamika percepatan transformasi digital dalam pendidikan tinggi, dosen Program Studi Sastra Indonesia (Sasindo) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terpilih sebagai team leader pada ASEF Higher Education Innovation Laboratory edisi keenam (ASEF InnoLab 6). Agenda tahunan yang berlangsung pada 8 April hingga 31 Desember 2025 ini diselenggarakan oleh Asia-Europe Foundation (ASEF), sebuah lembaga antarnegara yang menghimpun ilmuwan, diplomat, praktisi, serta pemangku kebijakan dari negara-negara Asia dan Eropa.
Pada
fase awal, ASEF InnoLab 6 menyeleksi 216 peserta dari 39 negara untuk mengikuti
rangkaian sesi daring selama empat bulan. Dari proses tersebut, panitia memilih
tiga lokasi penyelenggaraan fase onsite, masing-masing di Manila (kategori
Mikro-Kredensial), Shanghai (kategori Academic Paper), dan Slovakia (kategori
Academic Paper). Dosen Sasindo UNESA, Mohammad Rokib, terpilih untuk memimpin
pengembangan proyek Mikro-Kredensial bersama tim internasionalnya. Dari enam
tim yang diundang ke Manila, Rokib memimpin kelompok yang beranggotakan peserta
dari Kazakhstan, Hungaria, India, dan Kamboja.
Walaupun
mayoritas peserta berasal dari kalangan perguruan tinggi, kegiatan ini juga
melibatkan praktisi serta NGO pendidikan dari berbagai negara. Rokib menjadi
satu-satunya peserta dari Indonesia yang berlatar belakang sivitas akademika.
Melalui proyek bertema Metode Digital berjudul “Accelerating Digital
Research Methods in Higher Education: Ethical and Practical AI Integration,”
tim ini berhasil menyusun rancangan mata kuliah yang siap diimplementasikan
tahun mendatang.
Untuk
menggali lebih dalam mengenai pengalaman serta kontribusi dalam forum
internasional ini, tim redaksi mewawancarai Mohammad Rokib terkait proses,
tantangan, dan dampak keikutsertaannya pada ASEF InnoLab 6.
Apa alasan Bapak mengikuti program
ASEFInnoLab6 ini? Untuk apa sebenarnya program ini?
“Saya mengikuti program
ASEFInnoLab6 karena melihat bahwa dunia pendidikan tinggi sedang berada pada
fase transisi yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi kecerdasan
buatan. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi
juga memastikan bahwa transformasi digital berjalan secara etis, bertanggung
jawab, dan memberikan manfaat atau dampak nyata bagi proses pembelajaran maupun
penelitian.
Program ini dirancang untuk
menjawab kebutuhan itu. ASEFInnoLab6 mempertemukan para akademisi, peneliti,
dan pengelola pendidikan tinggi dari Asia dan Eropa untuk berbagi praktik baik,
membangun kolaborasi, dan merumuskan solusi yang dapat diterapkan di institusi
masing-masing. Jadi bukan hanya forum diskusi, tetapi ruang kerja kolaboratif
untuk merancang inovasi konkret, salah satunya micro-credential yang relevan
dengan perkembangan AI dan kebutuhan industri.
Bagi saya pribadi, mengikuti program ini penting agar perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UNESA, tidak tertinggal dalam pengembangan kompetensi digital, khususnya dalam metodologi riset. Saya ingin memastikan bahwa dosen dan mahasiswa kita siap menghadapi era penelitian yang semakin mengandalkan data, otomasi, dan analitik berbasis AI. Melalui program ini, saya memperoleh akses pada jejaring internasional, pendampingan pakar, dan peluang-peluang baru pengambangan pembelajaran di Eropa dan Asia. Itu semua menjadi modal strategis untuk memperkaya ekosistem akademik di kampus kita.”
Sesi foto bersama
Bisa dijelaskan apa itu
mikro-kredensial, Pak?
Micro-credential
pada dasarnya adalah bentuk pembelajaran singkat, terfokus, dan sangat spesifik
yang memberikan pengakuan resmi atas keterampilan tertentu. Jika program studi
atau mata kuliah reguler itu ibarat ‘jalan panjang’ menuju gelar sarjana atau
magister, maka micro-credential adalah ‘jalur pendek’ yang menuntun peserta
menguasai satu kompetensi yang benar-benar dibutuhkan saat ini.
Micro-credential
bisa berbentuk modul 20–40 jam, kursus singkat, pelatihan daring, atau
kombinasi keduanya. Di banyak negara, seperti Singapura, Australia, dan Eropa,
micro-credential dapat diakui dalam sistem kredit akademik dan bisa di-stack
atau digabung menjadi bagian dari program gelar. Artinya, seseorang bisa
belajar bertahap sesuai kebutuhan kariernya tanpa harus langsung mengambil
studi panjang.
Yang
paling penting, micro-credential itu dirancang untuk menjawab kebutuhan
keterampilan masa kini—misalnya literasi digital, etika AI, analisis data, atau
metode riset digital—yang cepat sekali berubah. Karena itu ia sangat relevan
dengan dunia pendidikan tinggi yang harus bergerak lebih lincah menyesuaikan
diri dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja.
Dalam
konteks proyek saya di ASEFInnoLab6, micro-credential yang kami kembangkan
bertema “Accelerating Digital Research Methods in Higher Education: Ethical and
Practical AI Integration.” Fokusnya adalah membantu dosen, mahasiswa, dan
peneliti memahami cara menggunakan alat riset digital—seperti text mining, NLP,
AI literacy—dengan cara yang etis, kritis, dan bertanggung jawab.
Jadi, micro-credential bukan hanya kursus singkat, tetapi sistem pembelajaran masa depan yang memungkinkan universitas membuka akses, memperluas jejaring pembelajar, serta memenuhi tuntutan era masyarakat internet dan AI dengan jauh lebih fleksibel.”
Sesi diskusi
Bapak di awal tadi menyebut pentingnya jejaring dalam program ini. Siapa saja yang hadir dan bagaimana peluang kolaborasinya?
“Ya,
jejaring adalah salah satu kekuatan terbesar dari ASEFInnoLab6. Program ini
diikuti peserta dari persebaran negara yang sangat luas—lebih dari 200
pendaftar dari Asia dan Eropa—namun hanya sekitar 25 peserta yang akhirnya
terpilih ke Manila, termasuk saya. Mereka berasal dari berbagai institusi di
Singapura, Jerman, Spanyol, Filipina, Polandia, Austria, Inggris, India, Portugal,
Kazakhstan, Hongaria, Australia, Kamboja, Myanmar, Malta, dan lainnya. Jadi,
ini benar-benar pertemuan internasional yang kaya perspektif.
Para
keynote speakers juga tidak kalah berpengaruh. Misalnya Prof Dr. Daniel Burgos
dari Spanyol yang secara mendalam menceritakan konteks mikro-kredensial dari
e-learning. Ada juga Dr. Salvatore Moccia dari European Institute of Innovation
and Technology (EIT) yang mengulas posisi perguruan tinggi dalam penciptaan
inovasi melalui program digital. Lalu, Dr. Kian Hoong Kwan dari Temasek
SkillsFuture Academy, Singapura, yang memaparkan ekosistem micro-credential
berbasis kepercayaan dan kualitas. Kemudian Dr. Ma. Rowena Caguiat dari De La
Salle University yang menunjukkan bagaimana micro-credential menjawab kebutuhan
masyarakat pembelajar yang sangat beragam. Materi mereka membuka wawasan kami
tentang bagaimana negara lain menata pendidikan masa depan dengan sangat
strategis.
Dari
sisi kolaborasi, peluangnya justru semakin terbuka karena kami bekerja dalam
tim lintas negara. Saya sendiri kebetulan jadi team leader Micro-credential
Accelerating Digital Research Methods in Higher Education: Ethical and
Practical AI Integration, dengan anggota dari Asia dan Eropa.
Dari
kolaborasi intensif selama beberapa minggu ini, kami mulai membuka peluang
penelitian bersama, terutama terkait integrasi AI dalam metodologi riset
digital, pengembangan kurikulum micro-credential lintas negara, serta
kemungkinan penyusunan proposal hibah multilateral. Bahkan beberapa kolega dari
Eropa menawarkan skema joint-research yang memungkinkan pertukaran data dan
praktik pengajaran.
Jadi, jejaring dalam program ini tidak berhenti sebagai daftar kontak, tetapi benar-benar berkembang menjadi ekosistem kerja sama yang produktif. Inilah nilai tambah terbesar yang saya lihat—bahwa perguruan tinggi Indonesia dapat hadir dalam percakapan global dan membangun masa depan pendidikan secara bersama.”
Sesi kunjungan ke Megaworld Corporation di Township Analytics and Technology Lab (TAT Lab)
Apa urgensi kegiatan ASEFInnoLab6
bagi Program Studi Sastra, dan bagaimana dampaknya bagi pengembangan pembelajaran
di masa mendatang?
“Urgensi
kegiatan ini bagi Prodi Sastra sebenarnya sangat langsung dan nyata. Dunia
sastra saat ini tidak lagi hanya berkutat pada teks cetak atau analisis
konvensional, tetapi telah masuk ke ruang digital yang sangat luas: mulai dari digital
storytelling, AI-assisted writing, text mining, sentiment
analysis, budaya media, hingga fenomena literasi di platform daring. Karena
itu, kemampuan untuk memahami dan menerapkan metode riset digital menjadi bukan
lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Saya
sendiri sedang mengampu mata kuliah baru, Sastra Digital, yang menuntut
mahasiswa memahami bagaimana teks, wacana, dan praktik budaya bergerak di ruang
internet. Untuk mengajarkan itu, saya perlu memperbarui pendekatan
metodologis—apa saja alat digital yang etis digunakan? Bagaimana menganalisis
big data budaya? Bagaimana AI dapat diperlakukan sebagai instrumen riset, bukan
sekadar gimmick teknologi? Melalui ASEFInnoLab6, saya mendapatkan akses
langsung pada praktik terbaik di universitas-universitas maju yang sudah lebih
dulu menerapkan kerangka micro-credential untuk riset digital dan AI.
Dampaknya
untuk masa depan sangat signifikan. Pertama, prodi dapat mulai merancang
micro-credential atau sertifikasi pendek bagi mahasiswa dan masyarakat umum
yang ingin meningkatkan keterampilan digital-humaniora. Ini selaras dengan tren
lifelong learning dan kebutuhan dunia kerja akademik maupun kreatif.
Kedua, kami membuka peluang kolaborasi global baik penelitian bersama maupun
pengembangan modul internasional. Ini nantinya dapat menjadi nilai tambah bagi
akreditasi dan reputasi prodi.
Ketiga, mahasiswa akan belajar dengan pendekatan yang jauh lebih relevan. Mereka tidak hanya mempelajari teori sastra, tetapi juga bagaimana analisis sastra dapat diperkaya dengan metode kuantitatif, pemrosesan bahasa alami, hingga visualisasi data. Dengan demikian, lulusan prodi sastra tidak lagi dianggap ‘jauh dari dunia digital’, tetapi justru tampil sebagai intelektual humaniora yang mampu membaca, mengkritisi, dan memproduksi pengetahuan di ekosistem digital yang sangat kompleks.
Singkatnya, kegiatan ini adalah investasi strategis bagi masa depan Prodi Sastra dan universitas. Ia membawa perspektif global dan kompetensi digital yang akan memperkuat posisi kita dalam pendidikan tinggi masa depan.”
Kalau Anda tertarik dengan berita kami, kunjungi fbs.unesa.ac.id atau s1sind.fbs.unesa.ac.id. Mari bergabung dan kembangkan literasi kritis Anda!
#SastraIndonesia #SastraDigital #UnesaFBS