Nawasena Angkat Jangkar: Raker Himasind UNESA Wujudkan Kolaborasi Pendidikan Sastra Indonesia yang Berkelanjutan
Di tengah arus informasi digital yang bergerak sangat masif, masyarakat kini dihadapkan pada disrupsi kebudayaan yang tak terelakkan. Mulai dari gegar budaya akibat campur tangan algoritma dalam kehidupan sehari-hari, hingga pergeseran batas-batas kemanusiaan dalam lanskap pascahumanisme yang mengaburkan garis antara subjek manusia dan teknologi. Tantangan ini diperumit oleh krisis ekologi dan lingkungan sosial yang makin kompleks, menuntut respons nyata yang bukan lagi sebatas teori di ruang kelas. Di sinilah pendidikan tinggi, khususnya ilmu humaniora, memegang peranan krusial sebagai penjaga moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Mahasiswa tidak hanya diuji lewat kemampuannya menghafal teori, tetapi juga ketajamannya dalam membaca dan membedah fenomena sosial yang mengelilinginya. Ketika wacana tentang inklusi sosial, pelestarian sastra digital, kesetaraan gender, dan hak-hak marginal mengemuka di ruang publik, mahasiswa humaniora dituntut untuk turun tangan meresponsnya melalui gerakan intelektual dan struktural yang sungguh-sungguh terukur.
Merespons tuntutan zaman dan dinamika sosial tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Himasind UNESA) kembali memantapkan fondasi pergerakannya di tingkat fakultas. Dengan mengusung tema besar yang sarat makna, yakni "Menata Lembar Baru Mahasiswa Sastra Indonesia", Himasind secara resmi menyelenggarakan kegiatan Rapat Kerja (Raker) untuk kepengurusan periode 2026-2027. Acara ini bukan sekadar rutinitas birokrasi atau kewajiban organisasi tahunan semata, melainkan sebuah deklarasi gagah bahwa kapal besar yang diberi nama sandi "Nawasena" telah angkat jangkar untuk kembali berlayar menembus gelombang tantangan. Momentum Raker ini bermaksud untuk melanjutkan harapan baru bagi mahasiswa sastra Indonesia selama satu periode kedepannya, mengarungi lautan program-program yang esensial dan berdampak nyata bagi seluruh civitas akademika.
Filosofi Nawasena dalam Perspektif Kajian Budaya
Pemilihan metafora "Nawasena, angkat jangkar kembali berlayar! " menjadi objek studi yang sangat memikat apabila dibedah menggunakan pisau analisis kajian kebudayaan dan hermeneutika. Secara etimologis, "Nawasena" diserap dari bahasa Sanskerta yang bermakna masa depan yang cerah dan penuh harapan. Dalam memori kolektif dan mitologi maritim Nusantara, sebuah kapal yang mengangkat jangkar merepresentasikan ritus peralihan (rite of passage) dan keberanian epik untuk meninggalkan zona nyaman demi menjelajahi samudra wacana yang jauh lebih luas.
Dalam perspektif kajian ruang (spatiality) yang sering dibahas dalam teori kebudayaan posmodern melalui konsep heterotopia, kapal Nawasena yang sedang berlayar ini merupakan sebuah ruang tertutup yang mandiri, namun pada saat yang sama terhubung erat dengan ketidakterbatasan dan dinamika dunia luar. Organisasi mahasiswa dapat diibaratkan sebagai kapal tersebut—sebuah mikrokosmos dari narasi sosial masyarakat yang lebih besar. Di dalam struktur kapal kepengurusan ini, terdapat berbagai elemen yang saling menopang. Nawasena bukan sekadar entitas benda mati atau nama kabinet; ia adalah ruang negosiasi identitas tempat ide-ide tentang sastra klasik, inovasi bahasa, kebudayaan lokal, pelestarian kajian folklor, kecerdasan buatan dalam seni, dan lainnya secara terus-menerus didekonstruksi untuk menjawab kegelisahan masyarakat modern. Perjalanan kapal ini seutuhnya digerakkan oleh kolaborasi dan visi bersama yang merajut keragaman pandangan para anggotanya menjadi satu haluan yang tajam dan terarah.
Sinergi Himasind dalam Mewujudkan Quality of Education
Gerakan kultural progresif yang diinisiasi melalui kegiatan Rapat Kerja ini memiliki irisan yang amat kuat dengan agenda pembangunan global Sustainable Development Goals (SDGs), secara spesifik pada Tujuan 4: Quality of Education (Pendidikan Bermutu). Pelaksanaan Rapat Kerja yang bergulir pada hari Sabtu, 7 Maret 2026 , dan mengambil tempat di Ruang kelas T8.03.08 Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, merupakan langkah yang teramat strategis untuk memastikan bahwa rancangan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) dalam dinamika organisasi sejalan dengan tujuan inklusi dan sistem pembelajaran sepanjang hayat. Melalui dinamika berorganisasi, mahasiswa melengkapi asupan teori di bangku kuliah dengan keterampilan praktis, negosiasi sosial, dan kepemimpinan.

Foto suasana kebersamaan pada kegiatan Raker Himasind 2026-2027
Kontribusi aktif para elemen program studi terlihat sangat jelas dan terstruktur dalam susunan kegiatan ini. Panitia yang dikoordinasikan secara apik oleh Nandita Afifa Zahwarina selaku Ketua Pelaksana, di bawah arahan dan pengawasan Muhammad Zaky Syabani selaku Ketua Himpunan, merancang sebuah forum yang melibatkan proyeksi secara transparan. Rapat kerja ini secara resmi dibuka oleh Koordinator Prodi Bapak Drs. Parmin, M.Hum. beserta Bapak MuhammadErwan Saing, M.A. sebagai Pembina Himpunan dengan memberi irisan pemikiran dan arahan.
Acara dibuka pada pukul 09.00 WIB dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars UNESA. Keterlibatan tiap angkatan aktif Mahasiswa Sastra Indonesia secara simbolis menunjukkan terciptanya sebuah kolaborasi vertikal yang sangat sehat antara level pendidikdan mahasiswa. Lebih lanjut, agenda krusial ini diisi dengan pemaparan program kerja dari berbagai pilar penggerak utama Himasind, meliputi Departemen Orpen, Bakmi, Advokesma, dan Infokom, serta paparan komprehensif dari Badan Pengurus Harian (BPH). Setiap pemaparan selalu diikuti oleh sesi tanya jawab, yang melatih kemampuan advokasi dan berpikir kritis mahasiswa. Agenda ini kemudian ditutup dengan semangat kolektif untuk terus berbenah.
Pada akhirnya, penyelenggaraan Rapat Kerja Himasind 2026 ini sejatinya adalah sebuah pelabuhan awal, bukan menjadi tujuan akhir dari suatu pelayaran. Menata lembar baru berarti memiliki keberanian dan kesediaan untuk menggoreskan narasi-narasi perubahan yang tidak hanya hidup eksklusif di dalam menara gading kampus, tetapi harus membumi dan berdampak langsung pada masyarakat luas. Mari terus jadikan setiap helai teks yang kita diskusikan, setiap program kerja yang kita jalankan, dan setiap karya sastra digital yang kita gagas sebagai suluh yang senantiasa menerangi; merawat daya kritis sertaliterasi bangsa, dan terus membangun kesadaran sosial yang berpihak seutuhnya pada hakikat kemanusiaan.
DEPARTEMEN INFOKOM HIMASIND 2026-2027