Semifinal Piala Rendra 2025: Mahasiswa Sastra Indonesia UNESA Berprestasi
Mahasiswa Sastra Indonesia UNESA mengikuti semifinal Lomba Baca Puisi Piala Rendra 2025 di UPI Bandung dalam rangka Gebyar Bahasa dan Sastra.
Dinar Rossyalia Alfianto, Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia UNESA berhasil mencapai babak semifinal dalam Lomba Baca Puisi Piala Rendra (LBPPR) 2025. Lomba ini diadakan dari 29 hingga 31 Oktober 2025 di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Untuk memperingati Bulan Bahasa, acara bergengsi nasional ini menjadi bagian dari Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI).
Lomba Baca Puisi Piala Rendra (LBPPR) 2025 kategori umum berlangsung pada 29–31 Oktober 2025. Pada 29 Oktober digelar babak semifinal–final untuk kategori umum, dilanjutkan semifinal–final kategori pelajar pada 30 Oktober, dan ditutup dengan Puncak Senja Anugrah pada 31 Oktober sebagai malam apresiasi bagi seluruh peserta.
Dukungan dari Prodi
Mahasiswa peserta lomba menyampaikan bahwa keikutsertaannya tidak terlepas dari dukungan penuh pihak Program Studi Sastra Indonesia UNESA. Dukungan langsung diberikan oleh Koordinator Program Studi Drs. Parmin, M.Hum., serta para dosen: Dr. Moh. Arif Susanto, S.S., M.Hum. Arie Yuanita, S.S., M.Si. selaku dosen pembimbing lomba.
Selain itu, motivasi dari keluarga dan teman turut menjadi penyemangat selama mengikuti proses perlombaan. LBPPR memiliki nilai historis dan edukatif yang penting bagi perkembangan sastra Indonesia.Lomba ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Bahasa sehingga berperan dalam upaya pelestarian Bahasa Indonesia melalui media puisi. LBPPR memiliki legitimasi sejarah karena sejak tahun 1989 berhubungan langsung dengan Rendra, menjadikannya salah satu ikon sastra dalam kegiatan GBSI. Ajang ini menjadi sarana pengembangan diri yang telah ditekuninya sejak sekolah dasar.
Ia menegaskan bahwa:
“Lomba Baca Puisi Piala Rendra bukan hanya ajang kompetisi, tetapi wadah pelestarian bahasa, penghargaan terhadap warisan budaya, dan sarana pengembangan potensi diri.”
Proses Perlombaan dan Hasil
Pada babak penyisihan, peserta memilih puisi sendiri berdasarkan teknik vokal dan karakter yang pernah dipelajari. Dari ratusan peserta, ia berhasil memasuki babak semifinal bersama 44 peserta lainnya.
Namun, babak final menggunakan sistem undian dua puisi yang disiapkan panitia, dan hanya 10 peserta terbaik yang dipilih. Pada tahap ini, ia belum berhasil melaju ke babak final.
Pengalaman dan Pembelajaran
Selama proses persiapan, ia menerapkan berbagai teknik pemaknaan puisi seperti: pencarian referensi melalui internet, diskusi dengan dosen pembimbing dan orang terdekat, latihan intensif mencakup vokal, penghayatan, tempo, dan gestur pendukung.
Melihat performa peserta lain, terutama dari kategori umum yang diikuti oleh berbagai rentang usia, memberikan pengalaman baru dan motivasi tambahan.
Ia menyampaikan:
“Saya mendapatkan pemahaman yang lebih matang mengenai performa puisi. Peserta di kategori umum tidak hanya mahasiswa, tetapi juga orang-orang dari berbagai usia yang tampil sangat kuat. Hal ini memotivasi saya untuk terus berkembang.”

