Puisi Hikmat Persembahan Prof Haris Supratno pada Hari Purnatugasnya
Surabaya, 28 Agustus 2025 Pada momen istimewa Hari Ulang Tahun ke-70, Prof Haris Supratno, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Negeri Surabaya, S1 Sastra Indonesia UNESA merayakan dengan sederhana purnatugas Prof Haris sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) usai 43 tahun mengabdi.

Dalam
sambutannya, Prof Haris menekankan bahwa walaupun telah resmi pensiun sebagai
PNS, semangatnya sebagai pendidik dan kontribusinya kepada masyarakat tetap
menyala. “Di luar konteks PNS, saya tetap mengabdi kepada masyarakat dan
berkontribusi dalam misi mencerdaskan kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Berikut
puisi yang disampaikan saat menutup sambutan hangatnya:
Di dunia ini tidak ada yang kekal.
Semua pasti berubah.
Hidup di dunia ini, penuh problema kehidupan, bagaikan berlayar di Samudra luas.
Penuh gelombang yang harus dihadapi.
Bersabarlah!
Dalam hidup ini, bekerjalah
dengan niat ibadah dengan iklas karena Allah,
bukan karena ria.
Cintailah pekerjaanmu
niscaya akan berkah.
Jangan selalu bepikir uang.
Bekerjalah dengan niat ibadah dan iklas.
Dalam hidup ini, ada masa kejayaan dan kekuasaan.
Anda akan dihargai, disanjung, dan dicintai.
Tapi, jika Anda tidak lagi berkuasa.
Anda akan dicaci, dimaki, dan dihina.
Bersabarlah!
Jika saat Anda menjabat dan berkuasa.
Jangan adigang, adigung, adiguna.
Kelak Anda akan dihina, dicaci, dan tidak dihargai.
Ingatlah!
Jasamu yang besar tidak akan tampak dan tidak akan dihargai, dicampakkan.
Kesalanmu dan kejelekkanmu akan dibuka.
Ingatlah!
Bersabarlah!
Dalam hidup ini, ada masa di mana keberadaanmu seakan tak terlihat, jerih payahmu tak terdengar, dan kebaikanmu tak pernah disebut.
Bersabarlah!
Itulah dunia.
Bukan kisah dongeng yang adil, tapi fakta yang harus kau hadapi.
Belajarlah untuk tidak selalu berharap diakui.
Belajarlah untuk tetap berbuat baik meski tak dilihat dan tak diiringi
tepuk tangan yang meriah.
Belajarlah untuk tetap bertahan meski tak dihargai.
Bersabarlah dan ingatlah!
Ingatlah, bahkan tongkat yang setia menemani si buta berjalan,
tongkatnya pun akan dibuang ketika matanya sudah bisa melihat.
Begitu juga dalam hidup, ada saatnya orang-orang meninggalkanmu saat mereka merasa sudah tak membutuhkanmu.
Bukan karena kau tak berarti.
Bukan karena jasamu kecil.
Tetapi karena hati manusia memang sering lupa siapa yang pernah membantunya berdiri.
Maka janganlah hatimu rapuh hanya karena manusia.
Lakukan semua kebaikanmu hanya karena Allah.
Karena Allah tak pernah lupa.
Tak pernah salah menilai.
Dan tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang tulus.
Jadilah seperti matahari, yang tetap bersinar meski tak semua orang mau mengakuinya.
Jadilah seperti air, yang tetap mengalir meski sering diinjak dan dikotori.
Tetaplah menjadi baik, meski tak pernah dianggap.
Karena nilai dirimu bukan dari tepuk tangan manusia.
Dan sanjungan manusia.
Nilai dirimu diukur dari ketulusan hatimu dan ketakwaanmu
di hadapan Allah SWT.
Semua manusia pasti akan mati.
Bekalnya bukan rumah mewah atau mobil mewah.
Istri atau suami dan anak juga tdk dibawa
ingatlah
bersabarlak dan
iklaskanlah
Selagi masih hidup banyak beribadah dan sedekah
kepada orang yang membutuhkan
mencari dan memberi ilmu
yang bermanfaat untuk orang lain.
Jadikanlah anak- anakmu
mejadi anak saleh dan salikhah
Itulah bekal hidup di akhirat.
Ingatlah!
Semoga kita mati dengan khusnul khotimah.
Aamiin...Aamiin...Aamiin
Surabaya, 26 Mei 2025