Mengenal Sastra Dunia: Drama Anton Chekov
Sastra dunia tidak pernah lepas dari nama Anton Pavlovich Chekov (1860–1904), seorang dokter yang kemudian dikenal sebagai salah satu dramawan dan penulis cerita pendek terbesar Rusia. Meski berprofesi sebagai dokter, Chekov lebih banyak mengobati manusia melalui kata-kata dan dramanya yang jujur, sederhana, sekaligus menusuk hati.
Dalam naskah Burung Camar, Chekov memperkenalkan bentuk baru drama. Ia tidak lagi mengikuti aturan klasik Aristoteles tentang kesatuan tempat, waktu, dan ruang, yang sudah dipertahankan lebih dari 2000 tahun. Meski begitu, Chekov tetap sepakat dengan gagasan Aristoteles bahwa seni adalah tiruan dari alam. Bedanya, Chekov menafsirkan "alam" bukan hanya sebagai alam fisik, melainkan juga kehidupan manusia dan batinnya.
sumber: stagescripts.com/the seagull
Chekov berusaha menampilkan kehidupan apa adanya, maksudnya bukan sekadar meniru peristiwa luar, tapi menggali keadaan jiwa yang paling dalam. Karena itu, karyanya sering disebut naturalistik, namun sesungguhnya ia melampaui naturalisme dan segala aliran (isme). Baginya, kehidupan tidak punya awal dan akhir yang jelas. Maka dalam drama-dramanya, dari Burung Camar hingga Kebun Ceri, kita tidak menemukan tokoh utama yang dominan, klimaks tunggal, atau alur yang lurus. Yang ada justru serpihan peristiwa, suasana hati, dan percakapan sederhana yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Kekuatan utama drama Chekov terletak pada suasana dan perasaan tokoh. Dialog-dialognya tampak sederhana, tapi sesungguhnya sarat makna dan menyentuh batin. Ia menolak kalimat yang panjang, bertele-tele, atau sekadar untuk sensasi. Begitu pula ia menolak gaya berlebihan (over-acting), karena akan merusak kehalusan dan kedalaman emosinya. Pergolakan dalam tokoh-tokohnya besar, tetapi ditampilkan secara tenang, di bawah permukaan.
Tokoh-tokoh Chekov bukanlah heroik atau manusia luar biasa, melainkan orang biasa dengan kelemahan dan kerentanannya. Karena itu, tragedi dalam dramanya tidak menimbulkan rasa ngeri seperti dalam drama klasik, melainkan kesedihan lembut yang membuat kita sadar: tokoh-tokoh itu adalah cermin dari diri kita sendiri.
sumber cover: amazon.com
Hal yang sama tampak dalam Paman Vanya (1899). Drama ini juga tidak menawarkan alur yang bergerak menuju klimaks heroik. Tokoh-tokohnya hanyalah orang biasa: Paman Vanya yang kecewa karena hidupnya terasa sia-sia, Sonya yang tabah tapi memendam luka, serta Profesor Serebryakov yang egois. Tidak ada pahlawan, tidak ada konflik besar yang meledak, tapi justru ada penderitaan batin yang dalam. Di akhir cerita, tidak ada penyelesaian yang tuntas hanya penerimaan dan kesadaran akan kesedihan hidup.
Jadi naskah-naskah ini memperlihatkan ciri khas Chekov, drama yang bergerak di bawah permukaan. Ia lebih mementingkan suasana hati dan dialog sederhana yang sarat makna, daripada peristiwa besar atau aksi teatrikal. Tokoh-tokohnya bukanlah sosok istimewa, melainkan manusia biasa dengan kelemahan dan impiannya. Tragedi mereka tidak menimbulkan rasa ngeri seperti dalam drama klasik, melainkan rasa iba dan kesedihan yang halus sebuah kesadaran bahwa hidup memang penuh keterbatasan.
Kalau Burung Camar menekankan tema
seni, cinta, dan kegagalan impian generasi muda, maka Paman Vanya lebih
menyoroti keputusasaan hidup sehari-hari, perasaan terjebak dalam rutinitas,
dan pengorbanan yang tidak pernah dihargai. Burung Camar masih menyimpan
semangat pencarian, sedangkan Paman Vanya terasa lebih muram, seperti kelelahan
jiwa setelah perjalanan panjang.
-Erwan Saing

