Mengapa Sastra Penting untuk Literasi Kritis?
Si Pulan sering berpikir, di tengah banjir informasi dari media sosial dan berita online, apa yang sebenarnya yang ia butuhkan untuk tidak mudah tertipu? Literasi kritis, tentu saja. Sastra, dengan segala kekayaannya, ternyata bisa jadi kunci utamanya. Di Program Studi S1 Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kami melihat sastra bukan hanya sebagai bacaan indah, tapi sebagai alat untuk melatih mahasiswa berpikir tajam dan analitis. Dengan kurikulum yang terus berkembang, termasuk integrasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menuju Kurikulum Berdampak, program ini membantu mahasiswa memahami dunia lebih dalam.
#SastraIndonesia
Dalam
artikel ini, kami ingin berbagi bagaimana sastra Indonesia di Unesa menjadi
sarana efektif untuk membangun literasi kritis. Dari analisis teks hingga
aplikasi praktis di dunia kerja, mari kita lihat bersama. Ini bukan sekadar
teori; ini tentang bagaimana sastra membantu kita menghadapi tantangan zaman.
#LiterasiKritis
Literasi
kritis itu seperti kemampuan untuk melihat di balik kata-kata. Bukan hanya
membaca, tapi mempertanyakan: Apa maksud penulis? Ada bias apa di sini? Di era
digital sekarang, di mana hoaks dan propaganda mudah menyebar, kemampuan ini
sangat krusial. Sastra Indonesia, dengan teks-teksnya yang kaya seperti puisi,
novel, dan drama, memberikan latihan sempurna untuk itu.
Di Unesa, Program Studi S1 Sastra Indonesia dirancang untuk mengasah kemampuan ini sejak awal. Melalui mata kuliah seperti Linguistik dan Metode Penelitian Sastra, mahasiswa belajar mengurai struktur bahasa dan konteks sosial. Hasilnya? Lulusan yang tidak hanya paham sastra, tapi juga bisa menganalisis informasi dengan kritis. Bayangkan, alumni kami sering jadi jurnalis atau content creator yang handal, karena mereka tahu cara membaca dunia.
#UnesaFBS
Kurikulum
di Program Studi S1 Sastra Indonesia Unesa dibangun dengan visi yang jelas:
menjadi program studi yang tangguh dan inovatif di bidang bahasa dan sastra.
Salah satu fokusnya adalah literasi kritis, yang diintegrasikan ke dalam setiap
mata kuliah. Kami mulai dari dasar, lalu berkembang ke aplikasi praktis.
Integrasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Menuju Kurikulum Berdampak
MBKM
membuka pintu bagi mahasiswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, magang di
media atau proyek kreatif. Ini membuat literasi kritis lebih hidup. Mahasiswa
tidak hanya belajar teori, tapi juga menerapkan analisis sastra di dunia nyata.
Mata kuliah Sastra Digital, contohnya, mengajarkan penggunaan teknologi untuk
menganalisis teks yang relevan dengan era AI saat ini.
Mata
Kuliah Utama untuk Literasi Kritis
Linguistik
dan Sintaksis (Di sini, mahasiswa belajar mengurai bahasa secara mendalam,
melatih logika dan analisis). Sejarah Sastra dan Antropologi Sastra (Kami hubungkan sastra dengan budaya
dan masyarakat, membantu mahasiswa paham dampaknya). Metode
Penelitian Sastra (Fokus pada riset kualitatif, yang membangun keterampilan
evaluasi teks). Dengan IPK
rata-rata lulusan 3,8, program ini berhasil membentuk mahasiswa yang kompeten.
Banyak alumni yang sukses sebagai peneliti atau saksi ahli bahasa, di mana
literasi kritis sangat diperlukan.
Metode Pembelajaran Inovatif di Sastra Indonesia
Untuk membuat literasi kritis menarik, kami gunakan metode yang
interaktif. Problem-based learning (PBL) dan case-based learning (CBL) membuat
mahasiswa aktif menganalisis teks sastra untuk memecahkan masalah sosial. Ini
bukan lagi kuliah satu arah; ini diskusi yang hidup.
Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
Platform
seperti Vinesa dan SIDIA memudahkan akses materi kapan saja. Dengan 80% mata
kuliah daring, mahasiswa belajar mengintegrasikan sastra dengan teknologi. Ini
melatih literasi digital kritis, seperti mengevaluasi sumber online. Bayangkan
mahasiswa yang bisa bedakan fakta dari opini hanya dari membaca puisi!
Kegiatan
Ekstrakurikuler dan Penelitian
Himpunan
Mahasiswa Prodi (HMP) sering adakan seminar atau kompetisi menulis, yang
mendorong berpikir kritis. Dosen juga dorong mahasiswa ikut hibah
penelitian, targetnya 3 mahasiswa lolos per tahun. Ini bukan sekadar tugas-, ini
latihan nyata untuk riset.
Dampak Sastra terhadap Literasi Kritis di Dunia Kerja
Lulusan
kami punya karier yang luas: dari peneliti hingga content creator. Di dunia
digital, kemampuan literasi kritis dari sastra sangat berguna untuk analisis
konten media sosial atau menghindari hoaks.
Kerjasama Industri dan Alumni
Kami kerja
sama dengan Jawa Pos dan institusi lain, beri mahasiswa pengalaman praktis.
Alumni sering jadi saksi ahli bahasa dalam kasus hukum, karena mereka ahli
analisis teks. Dengan akreditasi Unggul, program ini terus inovasi untuk dunia
kerja.
Tantangan
dan Solusi dalam Mengembangkan Literasi Kritis
Tentu, ada
tantangan. Beberapa mahasiswa kurang tertarik teks klasik. Solusinya? Kami
integrasi tema modern dan teknologi. Survei kepuasan mahasiswa menunjukkan 90%
puas dengan layanan akademik, jadi kami terus evaluasi.
Sastra sebagai Investasi untuk Masa Depan
Sastra
Indonesia lebih dari bacaan; ia sarana kuat untuk literasi kritis di perguruan
tinggi. Di Unesa, kami bangga bisa bentuk mahasiswa yang kritis dan adaptif.
Dengan kurikulum MBKM dan Berdampak dengan metode inovatif, lulusan kami siap hadapi dunia.
Kalau Anda
tertarik, kunjungi fbs.unesa.ac.id atau s1sind.fbs.unesa.ac.id. Mari bergabung
dan kembangkan literasi kritis Anda!
#SastraIndonesia #LiterasiKritis
#UnesaFBS