Ophelia Tidak Gila: Membaca Ulang Cinta dan Kesadaran dari Sudut Dekonstruksi
Ririe Rengganis*)
Dalam tragedi Hamlet karya William Shakespeare, Ophelia sering dikenang sebagai perempuan rapuh yang tenggelam oleh cinta dan kegilaan. Rambutnya terurai, tubuhnya mengapung di sungai, dikelilingi bunga-bunga liar. Ia menjadi ikon romantisisme tragis: mencintai terlalu dalam, lalu kehilangan diri. Namun, benarkah Ophelia sekadar korban cinta buta? Melalui kacamata dekonstruksi—sebuah pendekatan yang dipopulerkan oleh Jacques Derrida—kita diajak membongkar oposisi-oposisi biner yang selama ini dianggap stabil: rasional/emosional, laki-laki/perempuan, subjek/objek, waras/gila. Dekonstruksi bukan menghancurkan teks, melainkan menunjukkan retakan-retakan makna yang selama ini disembunyikan. Dan pada retakan itulah Ophelia berbicara.
1. Cinta atau Disiplin Patriarki?
Dalam pembacaan konvensional, Ophelia jatuh cinta pada Hamlet. Ketika Hamlet menjauh dan Ayahnya, Polonius, melarangnya bertemu, Ophelia terombang-ambing. Namun, dekonstruksi mengajukan pertanyaan: apakah yang ia alami benar-benar cinta, ataukah ia sedang berada dalam sistem pengawasan patriarkal? Polonius mengatur relasinya. Laertes mengingatkannya tentang bahaya lelaki. Hamlet sendiri memperlakukannya sebagai objek permainan politik dan psikologis. Ophelia tidak pernah menjadi subjek penuh; ia selalu menjadi perpanjangan kepentingan laki-laki. Cinta dalam teks ini bukan sekadar relasi dua individu, melainkan medan kuasa.
Ketika generasi muda hari ini berkata, “Aku mencintainya sampai kehilangan diriku,” kita perlu waspada. Jangan-jangan yang disebut cinta hanyalah internalisasi tuntutan sosial: agar perempuan patuh, agar laki-laki dominan, agar relasi tetap dalam hierarki yang tak terlihat. Dekonstruksi mengajarkan: setiap klaim cinta perlu ditanya—siapa yang diuntungkan?
2. Gila atau Bahasa yang Tidak Didengar?
Ophelia sering dianggap “gila” setelah kematian ayahnya dan penolakan Hamlet. Ia menyanyi lagu-lagu ganjil, berbicara dalam simbol. Namun, jika kita membongkar oposisi waras/gila, kita menemukan sesuatu yang berbeda. Yang disebut “kegilaan” Ophelia justru satusatunya momen ketika ia berbicara tanpa sensor patriarki. Dalam lagu-lagunya terselip kritik terhadap pengkhianatan, seksualitas yang dimanipulasi, dan kemunafikan moral istana. Ia tidak kehilangan bahasa. Ia menemukan bahasa yang tak dipahami sistem.
Dalam konteks generasi muda sekarang—yang hidup di era media sosial, ghosting, manipulasi emosional—sering kali mereka disebut “lebay”, “overthinking” atau “drama” ketika mempertanyakan relasi yang tidak sehat. Padahal, bisa jadi mereka sedang mencoba menyuarakan luka. Dekonstruksi mengingatkan kita: jangan buru-buru menyebut diri sendiri “gila” hanya karena merasa sakit. Yang perlu dipertanyakan adalah struktur relasinya.
3. Tenggelam: Bunuh Diri atau Simbol Diamnya Perempuan?
Adegan kematian Ophelia ambigu. Apakah ia bunuh diri, ataukah ia terpeleset dan tenggelam? Teks tidak pernah memastikan. Ambiguitas ini penting. Dekonstruksi menolak kepastian tunggal. Kematian Ophelia adalah ruang kosong—dan ruang kosong itu diisi oleh tafsir masyarakat. Banyak yang memilih membaca sebagai “konsekuensi cinta berlebihan”. Namun bagaimana jika kematiannya justru simbol dari sistem yang membuat perempuan tak memiliki ruang rasional untuk bertahan? Jika ia tidak punya suara, tidak punya pilihan, maka tenggelam adalah metafora sosial: hilangnya subjek perempuan dalam arus norma.
Bagi generasi muda, ini menjadi pengingat keras: kehilangan logika dalam cinta bukan romantis—itu berbahaya. Cinta yang sehat tidak meminta kita berhenti berpikir.
4. Membongkar Mitos Cinta Buta
Budaya populer sering memuja cinta total: “aku tanpamu bukan apa-apa.” Kalimat ini terdengar indah, tetapi secara dekonstruktif ia problematis. Ia menempatkan diri sebagai kekurangan yang hanya bisa dilengkapi orang lain. Ophelia menjadi simbol ekstrem dari mitos ini.
Dekonstruksi mengajarkan bahwa makna tidak pernah tunggal. Cinta tidak harus berarti penyerahan diri total. Justru cinta yang dewasa adalah negosiasi antara hasrat dan nalar. Jika Ophelia hidup hari ini, mungkin ia akan bertanya: Mengapa aku harus menunggu validasi?; Mengapa penolakan membuatku kehilangan harga diri?; atau Mengapa aku tak boleh marah? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah bentuk rasionalitas.
5. Pelajaran untuk Generasi Muda: Cinta Tidak Menghapus Logika
Cinta bukan musuh logika. Yang berbahaya adalah ketika cinta diposisikan sebagai lawan logika. Dekonstruksi menunjukkan bahwa oposisi emosi/logika adalah konstruksi yang bisa digugat. Seseorang bisa mencintai sekaligus berpikir kritis. Seseorang bisa terluka tanpa kehilangan nalar. Ophelia mengingatkan kita tentang risiko identitas disandarkan sepenuhnya pada orang lain. Ia kehilangan ayah, kehilangan kekasih, dan tidak memiliki diri yang otonom.
Generasi muda hari ini menghadapi tantangan berbeda: relasi digital, tekanan eksistensi, pembuktian diri lewat status hubungan. Namun, esensinya sama—jangan biarkan cinta menjadi satu-satunya pusat makna hidup.
Penutup: Menyelamatkan Ophelia dalam Diri Kita
Membaca Ophelia secara dekonstruktif berarti menyelamatkannya dari label “perempuan lemah”. Ia bukan sekadar korban cinta; ia korban sistem makna yang meminggirkan suaranya.
Dan mungkin, dalam setiap diri kita, ada potensi menjadi Ophelia—ketika kita mencintai tanpa berpikir, ketika kita diam saat diperlakukan tidak adil, ketika kita menyalahkan diri sendiri atas luka yang diciptakan struktur relasi.
Pesan sederhana, tetapi tajam bagi generasi muda:
Cintalah dengan hati, tetapi tetaplah berpikir.
Rasakan, tetapi jangan hilang arah.
Percaya, tetapi jangan menyerahkan seluruh identitas.
Sebab cinta yang sehat tidak menenggelamkan.
Ia menguatkan, bukan menghapus.
Ophelia tidak perlu diulang dalam kehidupan nyata.
Ia cukup hidup di panggung—sebagai pengingat, bukan sebagai takdir.
*) Penulis adalah dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya