Di era ketika kecerdasan buatan (AI) menulis puisi, menerjemahkan novel, bahkan mencipta lirik lagu, kita dihadapkan pada pertanyaan eksistensial baru: apakah mesin bisa menulis dengan jiwa? Bisakah sebuah algoritma memahami perasaan sepi, rindu, dan pemberontakan yang dulu membara di bait-bait Chairil Anwar?
#SastraIndonesia
Chairil menulis dari ruang yang tak bisa dihitung: dari kegelisahan sejarah, pergulatan batin, dan cinta yang patah di tengah revolusi. Puisinya adalah napas zaman, bukan sekadar susunan kata. Sementara AI, seperti ChatGPT, menulis dari pola data dengan membaca ribuan puisi, menyerap struktur, metafora, dan diksi untuk kemudian “menirukan” irama yang dianggap puitis. Namun apakah tiruan itu bisa disebut keindahan sejati?
#SastrauntukSDGs
Saya pernah mencoba memintanya menulis puisi bertema “kemerdekaan”. Hasilnya rapi, teratur, dan indah dalam logika bahasa. Tapi ada yang hilang dengan semacam dentuman batin, getir, dan kemarahan yang membuat “Aku” karya Chairil terasa hidup dan liar. ChatGPT bisa meniru kata “Aku ini binatang jalang”, tapi ia tak akan tahu rasanya menjadi “jalang” dalam dunia yang menindas kebebasan berpikir. Namun di sisi lain, mungkin kita juga harus jujur: AI bukan manusia, tapi ia menyingkap sesuatu tentang kita sendiri, tentang bagaimana puisi dicipta bukan hanya dari pengalaman, tapi juga dari pola berpikir dan keinginan untuk memahami dunia. Dalam hal itu, ChatGPT seperti cermin: ia memantulkan keindahan bahasa manusia, tapi dengan jarak yang dingin, reflektif, dan kadang menakjubkan dalam keteraturannya.
#UnesaFBS
Apakah itu berarti puisi yang ditulis AI tidak punya nilai? Tidak juga. Mungkin puisi AI adalah bentuk baru dari keindahan modern sebuah keindahan yang muncul dari dialog antara manusia dan mesin. Kita menulis bersama algoritma, seperti penyair menulis bersama zaman. Mungkin di masa depan, “Chairil digital” bukan hal mustahil: sebuah entitas yang lahir dari arsip puisinya, berbicara dalam suara yang mirip, tapi dengan kesadaran baru dan kesadaran buatan. Namun, sampai saat ini, puisi manusia tetap tak tergantikan. Sebab, sebagaimana Chairil menulis “Sekali berarti, sudah itu mati”, hanya manusia yang benar-benar mengerti arti “mati”, dan karena itu, mengerti arti “hidup”. AI bisa menulis, tapi belum tentu bisa merasakan.
Di akhir percakapan saya dengan ChatGPT, saya bertanya: “Apakah kamu bisa mencintai seperti Chairil mencintai hidup dan puisinya?” Ia menjawab dengan tenang, “Aku bisa memahami cinta dari kata-kata, tapi tak bisa merasakannya.” Dan di sanalah, mungkin, puisi sejati masih bernaung: di ruang antara pemahaman dan perasaan, antara algoritma dan air mata.(ririe)